Saturday, 24 October 2026

Cerita EU Trip part 4 of 4 - Resolusi dan Konsekuensi

Resolusi
Dari sederet cerita dan kontemplasi selama beberapa minggu terakhir, sepertinya ada beberapa hal yang bakal jadi resolusi saya ke depan.

One, I will learn language harder
Daptar kursusan di Duolingo.
Ada 2 lagi yang belom dimasukin soalnya
baru mulai dan blom yakin mw dipertahanken :p 

Alasan paling genuine adalah because for me, it's fun. It's a kind of flex not many people around me can beat so it kinda feeds my grandiosity self esteem in a non-dangerous way. Lagian belajarnya lewat Duolingo juga kan, which is suka ada little milestones of achievement yang ditampilkan secara warna-warni yang lutchuk aja gitu kalo dimasukin story atau status WA, so it's fun 😃
Alasan lain sih biar kalau traveling, bisa ngurangin waktu yang dihabiskan buat buka gugeltrenslet kaya pas ngguwak sampah neng Swedia dan sampahnya harus terpilah, guweh kademen gaes gegara tempat sampahnya neng njaba dan ndadak gugeltrenslet siji2 ben ra kleru sampah apa masuk panggonan yang mana yalord. Biar pas di restoran ga kesuwen mbaca menu gegara ndadak ditrenslet siji2. Biar nek ke toko2 yang self service which is uakeh neng yurop ga salah ambil barang gegara keliatannya menarique padahal bisa aja fungsinya tydack seperti yang kupikirkan. Biar lebih gampang ngertiin rambu dan plang2 di toko dan jalanan. Biar ngerti tulisan di profilnya mas2 tinder warlok itu artinya apa dan mengurangi kemungkinan scam atau ditipu bahwa kosakata x itu artinya "makasih" padahal asline kuwi kosakata permisuhan dan kemudian ku dideportasi early karena dianggap tidak sopan wkwkwk. Biar ngerti sithik2 nek dirasani dan (mudah2an) bisa lebih cepet koreksi kalo ada satu dan lain hal yang kayanya salah; again, avoiding early deportation lah ye. Intinya biar bisa less insecure dan lebih immersed aja pas traveling karena biasanya locals juga lebih apresiatif sama visitor yang speaks some of the language, or at least passively ngerti sithik2 kan..
Trus kalau belajar bahasa tu somehow kaya jadi lebih ada sense terkait what's important buat orang-orang yang bicara bahasa itu dan kaya.. degree of privacy/boundaries di sana. IMO selain meningkatkan adaptability, it also gives me a better hunch of negoro endi sing enake takbaleni dan mungkin takdadekke nggon urip later dan yang cukup sekali ini saja. Kalau berdasarkan itinerary kemarin, so far mas2 tinder Sweden wins sih, but embuh yo apakah Sweden tetap akan jadi kecintaan kala winter (especially the extreme one) datang wkwk. 
Jadi so far I have 7 languages of European countries in my Duolingo gaes (exclude Spanish yang skornya uda lumayan karena emang belajarnya uda lebih lama dan uda kursus pula). I plan to do one day one language gitu jadinya. Trus narget skornya semua bisa >20 by new year 2027, dan hopefully uda >40 by the  1st quarter of 2027 gitu. Tapi mbuh juga sih, liat sikon ntar, apa kita tetap bisa mempertahankan iman dan takwa dengan konsisten wkwk.

Two, I will prioritize language-related skills and psychotherapy for my professional development.
Language related skills di sini may include translating, interpreting, proofreading ya. Jadi selain belajar skill-nya, I might also learn to establish a good networking and re-adjust my time management plan biar skills ini bisa jadi salah satu sumber pendapatan yang sustainable and reliable. Psychotherapy-wise, mungkin I would learn better how to provide it online. 
Dua hal ini dikembangkan dalam rangka biar apaaa? 
First, biar bisa self-sustain dengan income yang ga tergantung pemerintah mbelgedes di negara ini, ofkors. Biar ga menghabisken waktu buat dramak bokek mendera kala gaji ASN yang harusnya dikeluarin ama kopdes telat keluar gegara duitnya lagi dipinjem buat subsidi SPPG buat beli sprei sama sarung bantal yekan...  
Second, biar bisa remote working lah ya. Jadi mau tinggal di mana pun, asal ada listrik dan sinyal internet, tetep bisa punya income. I mean, we never know kan ya kapan rumah kita bisa tiba2 digusur gegara (kali aja) target jumlah kopdes kabupaten ini masih belom memenuhi. Bangunan gedung SD aja yang itu adalah fasilitas umum yang jelas2 yang make itu BANYAK aja bisa jadi kopdes, apalagi cuma rumah yang isinya makhluk tak berharga di mata makhluk yang hanya mau baca laporan bagus macem guweh gini.
That being said, I will tone down on spending time, money, and energy buat ngerjain hal2 yang untuk kepentingan institusi pemerintah ke level bare minimum, yang penting things run as usual aja. Karena.. buat apa? Sistem ini problematik, and I simply don't wanna die with a memory of being loyal devotee of that problematic system. I wanna remember myself as someone who tries my best for the people I serve instead of for those tukang terima laporan pokoke sudah beres aman terkendali despite all the shits. Jadi ya.. screw that  loyalitas tanpa batas shit because monmaap ye, guweh tim loyalitas and stay waras.

Three, I will travel more often. 
Biar apa? Biar regularly terpapar sama cara hidup yang lain. Biar nggak terlalu attached sama only one way of living dan malah ga bisa 'pergi' dari cara hidup itu when somehow things got sour and become too toxic. Biar nggak terlalu takut dan stressed out sama perubahan karena in a world that goes so fast like now, changes are just inevitable. Biar nambah repertoir cara koping, cara cari cuan, cara berelasi, cara regulasi emosi, koneksi. Intinya biar semakin adaptif dan ga cepet mati, baik real 'mati' dan dying inside gitu, because.. ya gimana ya, life is just to short to not be enjoyed 😎

Four, I will read and write more often.
Alasan pertama adalah karena kedua aktivitas ini sangat menunjang resolusi kedua. Alasan kedua karena ini adalah aktivitas kreatif yang I enjoy doing dan I feel more like myself if I do them more. Alasan ketiga, yakalik ini juga bisa jadi cuan yekan
Kayanya perlu bersih2 file e-book di HP dan bikin reading list ini biar disiplin bacanya 😑

Konsekuensi
There are prices to pay buat resolusi itu, ofkors.
One, mau ngerjain tugas yang selaen ngajar sama ngurus pasien tu ngumpulin motivesyen-nya jadi effort banget yalord 😓
Karena ya itu tadi: mikirnya ini bakal jadi kontribusi guweh buat pemerintah mbelgedes ini yang masio aku working like shit, mangpaatnya tu ga kerasa buat orang-orang yang jadi customer (in this case, pasien atau mahasiswa). 
Alasan lain lagi tu IMO sistem sekarang kesannya cenderung pokoke uwis "saya terima laporan" dan laporane wis apik, uwis. Pokoknya uda ada sertipikat pencapaian, uwis. Ga ada tu yang ngajak ngomong buat mengulik GIMANA CARANYA biar laporannya bisa kaya gitu, atau gimana biar bisa dapat sertipikat itu. Akhirnya prestasi2 itu ga reproducible karena ga ada yang mendokumentasikan prosesnya and actually passes it to the next generations, dan ya udah, kaya achievement dan rekognisi itu jadi jadi kaya based on luck aja, bukan based on effort. Buat sy sendiri, jadinya ky bikin apatis banget gitu lho. Like... hla mending guweh suruh cetjipiti bikin dokumen laporan yang uda beres sama sertipikat trus kumpulin trus habis gt guweh tinggal tidur dong kalo gitu caranya.. Ngapain kerja keras kalo toh yang getting benefits bukan guweh atau orang2 yang jadi customer guweh, tapi makhluk2 petinggi di govt yang sebenarnya hardly doing anything? Gitu.
Tapi ya.. kalo ada energi sisa, ya kayanya sy kerjain aja lah ya.. daripada energinya dipake doom scrolling yekan. Kali aja kerjaannya bisa ada mangpaatnya dan ada cuan tambahannya buat tambah2 ongkos numpak tram.  

Two, adaptasi lagi.
Ganti prioritas artinya belajar ulang biar muncul "refleks" semacam, "oh sekarang jam segini, berarti waktunya kegiatan x" karena ya.. jenis kegiatan yang mau dikerjain tu beda dan kebutuhan energi buat ngerjainnya juga beda. It's uncomfortable, of course, tapi ya gapapa. Discomfort is just an inherent part of the process of changing, so I'll power through and I'll get through this 💪


Demikian sodara2. Sekian rentetan cerita EU trip kali ini. Doaken semoga segera bisa ada EU trip (dan cerita2) berikutnya yes 😎

No comments:

Post a Comment