Saturday, 24 October 2026

Cerita EU Trip part 4 of 4 - Resolusi dan Konsekuensi

Resolusi
Dari sederet cerita dan kontemplasi selama beberapa minggu terakhir, sepertinya ada beberapa hal yang bakal jadi resolusi saya ke depan.

One, I will learn language harder
Daptar kursusan di Duolingo.
Ada 2 lagi yang belom dimasukin soalnya
baru mulai dan blom yakin mw dipertahanken :p 

Alasan paling genuine adalah because for me, it's fun. It's a kind of flex not many people around me can beat so it kinda feeds my grandiosity self esteem in a non-dangerous way. Lagian belajarnya lewat Duolingo juga kan, which is suka ada little milestones of achievement yang ditampilkan secara warna-warni yang lutchuk aja gitu kalo dimasukin story atau status WA, so it's fun πŸ˜ƒ
Alasan lain sih biar kalau traveling, bisa ngurangin waktu yang dihabiskan buat buka gugeltrenslet kaya pas ngguwak sampah neng Swedia dan sampahnya harus terpilah, guweh kademen gaes gegara tempat sampahnya neng njaba dan ndadak gugeltrenslet siji2 ben ra kleru sampah apa masuk panggonan yang mana yalord. Biar pas di restoran ga kesuwen mbaca menu gegara ndadak ditrenslet siji2. Biar nek ke toko2 yang self service which is uakeh neng yurop ga salah ambil barang gegara keliatannya menarique padahal bisa aja fungsinya tydack seperti yang kupikirkan. Biar lebih gampang ngertiin rambu dan plang2 di toko dan jalanan. Biar ngerti tulisan di profilnya mas2 tinder warlok itu artinya apa dan mengurangi kemungkinan scam atau ditipu bahwa kosakata x itu artinya "makasih" padahal asline kuwi kosakata permisuhan dan kemudian ku dideportasi early karena dianggap tidak sopan wkwkwk. Biar ngerti sithik2 nek dirasani dan (mudah2an) bisa lebih cepet koreksi kalo ada satu dan lain hal yang kayanya salah; again, avoiding early deportation lah ye. Intinya biar bisa less insecure dan lebih immersed aja pas traveling karena biasanya locals juga lebih apresiatif sama visitor yang speaks some of the language, or at least passively ngerti sithik2 kan..
Trus kalau belajar bahasa tu somehow kaya jadi lebih ada sense terkait what's important buat orang-orang yang bicara bahasa itu dan kaya.. degree of privacy/boundaries di sana. IMO selain meningkatkan adaptability, it also gives me a better hunch of negoro endi sing enake takbaleni dan mungkin takdadekke nggon urip later dan yang cukup sekali ini saja. Kalau berdasarkan itinerary kemarin, so far mas2 tinder Sweden wins sih, but embuh yo apakah Sweden tetap akan jadi kecintaan kala winter (especially the extreme one) datang wkwk. 
Jadi so far I have 7 languages of European countries in my Duolingo gaes (exclude Spanish yang skornya uda lumayan karena emang belajarnya uda lebih lama dan uda kursus pula). I plan to do one day one language gitu jadinya. Trus narget skornya semua bisa >20 by new year 2027, dan hopefully uda >40 by the  1st quarter of 2027 gitu. Tapi mbuh juga sih, liat sikon ntar, apa kita tetap bisa mempertahankan iman dan takwa dengan konsisten wkwk.

Two, I will prioritize language-related skills and psychotherapy for my professional development.
Language related skills di sini may include translating, interpreting, proofreading ya. Jadi selain belajar skill-nya, I might also learn to establish a good networking and re-adjust my time management plan biar skills ini bisa jadi salah satu sumber pendapatan yang sustainable and reliable. Psychotherapy-wise, mungkin I would learn better how to provide it online. 
Dua hal ini dikembangkan dalam rangka biar apaaa? 
First, biar bisa self-sustain dengan income yang ga tergantung pemerintah mbelgedes di negara ini, ofkors. Biar ga menghabisken waktu buat dramak bokek mendera kala gaji ASN yang harusnya dikeluarin ama kopdes telat keluar gegara duitnya lagi dipinjem buat subsidi SPPG buat beli sprei sama sarung bantal yekan...  
Second, biar bisa remote working lah ya. Jadi mau tinggal di mana pun, asal ada listrik dan sinyal internet, tetep bisa punya income. I mean, we never know kan ya kapan rumah kita bisa tiba2 digusur gegara (kali aja) target jumlah kopdes kabupaten ini masih belom memenuhi. Bangunan gedung SD aja yang itu adalah fasilitas umum yang jelas2 yang make itu BANYAK aja bisa jadi kopdes, apalagi cuma rumah yang isinya makhluk tak berharga di mata makhluk yang hanya mau baca laporan bagus macem guweh gini.
That being said, I will tone down on spending time, money, and energy buat ngerjain hal2 yang untuk kepentingan institusi pemerintah ke level bare minimum, yang penting things run as usual aja. Karena.. buat apa? Sistem ini problematik, and I simply don't wanna die with a memory of being loyal devotee of that problematic system. I wanna remember myself as someone who tries my best for the people I serve instead of for those tukang terima laporan pokoke sudah beres aman terkendali despite all the shits. Jadi ya.. screw that  loyalitas tanpa batas shit because monmaap ye, guweh tim loyalitas and stay waras.

Three, I will travel more often. 
Biar apa? Biar regularly terpapar sama cara hidup yang lain. Biar nggak terlalu attached sama only one way of living dan malah ga bisa 'pergi' dari cara hidup itu when somehow things got sour and become too toxic. Biar nggak terlalu takut dan stressed out sama perubahan karena in a world that goes so fast like now, changes are just inevitable. Biar nambah repertoir cara koping, cara cari cuan, cara berelasi, cara regulasi emosi, koneksi. Intinya biar semakin adaptif dan ga cepet mati, baik real 'mati' dan dying inside gitu, because.. ya gimana ya, life is just to short to not be enjoyed 😎

Four, I will read and write more often.
Alasan pertama adalah karena kedua aktivitas ini sangat menunjang resolusi kedua. Alasan kedua karena ini adalah aktivitas kreatif yang I enjoy doing dan I feel more like myself if I do them more. Alasan ketiga, yakalik ini juga bisa jadi cuan yekan
Kayanya perlu bersih2 file e-book di HP dan bikin reading list ini biar disiplin bacanya πŸ˜‘

Konsekuensi
There are prices to pay buat resolusi itu, ofkors.
One, mau ngerjain tugas yang selaen ngajar sama ngurus pasien tu ngumpulin motivesyen-nya jadi effort banget yalord πŸ˜“
Karena ya itu tadi: mikirnya ini bakal jadi kontribusi guweh buat pemerintah mbelgedes ini yang masio aku working like shit, mangpaatnya tu ga kerasa buat orang-orang yang jadi customer (in this case, pasien atau mahasiswa). 
Alasan lain lagi tu IMO sistem sekarang kesannya cenderung pokoke uwis "saya terima laporan" dan laporane wis apik, uwis. Pokoknya uda ada sertipikat pencapaian, uwis. Ga ada tu yang ngajak ngomong buat mengulik GIMANA CARANYA biar laporannya bisa kaya gitu, atau gimana biar bisa dapat sertipikat itu. Akhirnya prestasi2 itu ga reproducible karena ga ada yang mendokumentasikan prosesnya and actually passes it to the next generations, dan ya udah, kaya achievement dan rekognisi itu jadi jadi kaya based on luck aja, bukan based on effort. Buat sy sendiri, jadinya ky bikin apatis banget gitu lho. Like... hla mending guweh suruh cetjipiti bikin dokumen laporan yang uda beres sama sertipikat trus kumpulin trus habis gt guweh tinggal tidur dong kalo gitu caranya.. Ngapain kerja keras kalo toh yang getting benefits bukan guweh atau orang2 yang jadi customer guweh, tapi makhluk2 petinggi di govt yang sebenarnya hardly doing anything? Gitu.
Tapi ya.. kalo ada energi sisa, ya kayanya sy kerjain aja lah ya.. daripada energinya dipake doom scrolling yekan. Kali aja kerjaannya bisa ada mangpaatnya dan ada cuan tambahannya buat tambah2 ongkos numpak tram.  

Two, adaptasi lagi.
Ganti prioritas artinya belajar ulang biar muncul "refleks" semacam, "oh sekarang jam segini, berarti waktunya kegiatan x" karena ya.. jenis kegiatan yang mau dikerjain tu beda dan kebutuhan energi buat ngerjainnya juga beda. It's uncomfortable, of course, tapi ya gapapa. Discomfort is just an inherent part of the process of changing, so I'll power through and I'll get through this πŸ’ͺ


Demikian sodara2. Sekian rentetan cerita EU trip kali ini. Doaken semoga segera bisa ada EU trip (dan cerita2) berikutnya yes 😎

Cerita EU Trip part 3 of 4 - Expectation, Reality, Realization

Expectation vs reality
Expectation #1: bisa baca banyak buku
Books I read during
the first days of the trip
Saya sampai di Swedia dalam keadaan sudah selesai baca tiga buku dalam tiga hari perjalanan dan ngelewatin transit city, dan buku keempat kayanya saya selesaikan di hari pertama saya sampai di sana karena lagek mlebu hotel pas sore dan ku syuda males mencari ruang londri nggo umbah2, jadi mending gegoleran sambil baca aja. With this speed, yang IMO tumben2an banget terjadi yekan, I thought by the time the holiday was completed, I would have been able to read at least two more e-books lah. Jadi bisa menyelesaikan holide dalam keadaan refreshed dan pintere nambah sithik gitu lah. 

Reality: I don't finish any additional book afterwards wkwkwk 
I don't event read carefully materi2 World Congress of Psychiatry dan akhirnya app-nya belom di-uninstall sampe sekarang gegara materinya pada belom kebaca. This happened karena gaweanku pas nge-trip adalah mostly mlaku2, chat dan koordinesyen sama para warlok / pseudo-warlok, dan mbukak gugel nggo survey transportasi / akomodasi / panggonan mana yang mau didatengin. 
Ofkors I didn't really regret it karena I didn't fail it because I was lazy and I was doing something as meaningful instead. Cuma ya.. jadi sadar kalo energy level-nya emang udah beda sama jaman nom2an, hence the necessity to manage it well. 
Hal lain yang saya sadari ternyata adalah bahwa I still have the skill to read. 
Jadi these days I've been having trouble finishing my reading plan kan.. Nah setelah dipikir lagi, kegagalan itu ternyata terjadi bukan karena saya ga kuat baca atau can't read fast enough, tapi karena ada banyak work-related texts yang buat saya personally meaningless, but I gotta read it anyway karena itu tugasnya. Waktu banyak kepake buat hal ini, sehingga reading time yang memang saya melakukannya because I want to itu, jadi tinggal sedikit. Selain waktunya kepake, ofkors energi juga kepake, jadi ya.. begitulah. Seringnya jadi wacana aja. 
Jadi ya.. because apparently I still have the skill, ya udah berarti habis ini yang diatur adalah strategi manajemen waktu dan energinya biar baca bisa lebih rutin dan lebih fulfilling lagi. 

Expectation #2: screen time turun banyak
Reality: Screentime NAIK banyak karena sithik2 mbukak gugeltrenslet, kamera buat motret2, sama pas lagi di jalan buat going somewhere tu bentar2 buka gmaps karena dengan kecerdasan navigasi level se-saya gini, bisa mbalik ke endonesa dalam keadaan selamat tu sesungguhnya adalah suatu keajaiban alam. 
I'm still happy, though, karena penggunaannya lebih purposeful. Ga banyak yang sekedar buat killing time. Jadi ya gapapa, I forgive myself for that wkwk


Another realizations..
One, the quantity over quality thingy is real.
Salah satu pembahasan yang sempat dibicarakan sama pemuda harapan bangsa ini adalah tentang his peers yang sepertinya sangat kompetitif dan berusaha produktif dengan membuat karya ilmiah seBANYAK2nya, mostly dalam bentuk sysrev dan meta-analisis. He mentioned thinking like, "Ini segininya sebenarnya cari apa sih?" dan jadinya kaya gampang banget bikin sysrev. Padahal kata pemuda harapan bangsa lainnya, proses buat sysrev dan meta-analisis yang berkualitas bagus itu panjaaangg dan requiring multi-layered checks from multiple people.
He also mentioned about how some people work together buat nulis suatu artikel, trus kaya strictly dibagi2, siapa nulis bagian mana; tapi the whole paper-nya itu jadi kehilangan kohesivitas karena antar personel nggak saling cek satu sama lain buat memastikan flow yang enak dan koheren dari artikelnya; yang penting selesai dan published. Ga terlalu dipikir tentang readilibity dan relatability ke orang2 yang baca, atau real applicability-nya in real life. Gotta say it's kinda right ya, karena beberapa kali saya diminta ngecek sysrev-nya mahasiswa dan yang terjadi adalah saya bingung karena variabel yang dibahas buuuuwaanyaaak dan angel dikompartementalisasi biar lebih gampang dipahami. Selain itu, pas saya tanya, ini prioritas audiens yang mau ditarget siapa atau pesan apa yang mau disampaikan dengan nulis paper ini, mereka nggak exactly bisa jawab. Jadi ada banyak data, tapi kemanfaatannya ga jelas dan value atau misi yang mau diusahakan dicapai dengan penulisan artikel tu kaya.. ga jelas. 
Jadinya begitulah, kaya leading a life of meaningless productivity, dan.. jadi sedih aja rasanya. Soalnya kalo kita ga punya clear (and preferably personal) purpose buat kegiatan ilmiah kita, jadinya emang ibarat collecting things we can't really treasure yang ujung2nya malah bikin rumah penuh aja, tapi ga ngasih sense of fulfillment. Jadi pesan moralnya buat saya, while still considering to learn about this sysrev thingy, kayanya prioritasnya di bawah belajar tentang qualitative research lah ya karena.. dealing with numbers kaya kurang healing aja gitu, daripada dealing with real life experiences. Toh saya ga segitunya ngejar publikasi buat naik pangkat atau semacamnya karena kan itu bukan lyfe goal dan blom tentu juga guweh ga ngajuin pensiun dini some time soon wkwk 

Two, whatsapp jadi JAUH lebih lambat pergerakannya, and I really didn't mind. 
Rasanya tu kaya, "oh berarti sebenarnya nggak papa ya kalau I'm not that connected with everyone everywhere." "Oh berarti nggak actually ada yang rugi juga kalau I take more time alone to do things that I consider important; toh ternyata dunia nggak sebanyak itu butuh guweh." And it's just nice that I can be more in touch with my surroundings, yang bener2 ada di depan mata, instead of apa yang ada di screen yang... ya itu tadi, sebenarnya nggak selalu relevan buat real life.  

Three, that πŸ™ emot is out of my "frequently used" list during the holiday, and it didn't feel wrong
Saya merasa bahwa at most times, emot itu adalah emot representasi basa-basi dan establishing boundaries kaya "sorry I'm not getting into or doing anything personal with you"; although at other times I saya juga pakai emot itu to show genuine respect to teacher / mentor figures yang menurut saya keren. Dengan menyadari bahwa selama liburan saya jarang pake emot itu, it kinda gave me the thought "ah.. I spent my holiday well in the state of being me. I'm grateful." 
At the same time, ada sense of irony juga karena jadi merasa bahwa I might have worn the 'mask' a bit too much in my regular life, to the level that I almost forgot who I really am. Jadi kayanya emang perlu dilatih lagi mindfulness-nya biar lebih cepet bisa notice if I may have shifted to much from being the real me, biar ga sampe "ilang" dan malah jadi aneh2.


Intinya, it's just nice to be able to experience life differently once in a while, and I really should find more chances to do so πŸ˜ƒ

Tuesday, 13 October 2026

Cerita EU trip part 2 of embuh - Paket wisata komplit SE NL FR

As I mentioned di post sebelumnya, rute EU trip kali ini adalah Swedia - Belanda - Prancis. Tentu saja rute ini tidak random dan masing-masing punya misinya sendiri. Meskipun setelah dijalani ya dalam hati jujurly agak misuh2 karena jebulnya jarak antar ketiganya mayan jughak (dan jadi lumayan banyak waktu yang dihabiskan di jalan), I don't have that much regret karena semua misi terlaksana dan.. I think I've got a pretty diverse and holistic experience selama dua minggu ini dibanding (mungkin) kalau fokus ke satu area yang berdekatan aja. Let's (try to) get to it one by one.

First stop, Swedia.
Stockholm is the first destination karena mau ikut conference. Later at the end of the trip, I went to Ostersund karena mau nonton konser. Oh sama satu lagi ding di Swedia. Benernya pingin ngepoin Karolinska institutet yang kanal yutub kuliah2 psikiatrinya jadi salah satu paporit saya, even before era covid dan rikording kuliah onlen bertebaran di mana2. Yang ini ga tercapai sih, tapiii ya ada sepil2an dikit tentang Karolinska ini which is ntar guweh critain belakangan.
Kayanya gegara mindset-nya uda conference sama konser itu, jadinya begitu nyampe Stockholm, yang jadi concern pertama adalaaaah belajar cara mengoperasiken kompor + microwave + mesin cuci + drying cabinet di aparthotel wkwkwk. Beneran awalnya ga kepikir mau liat2, tapi kan ya.. ya masa ga liat2 kotanya kan.. jadi terus buka2 info Stockholm dan menyesal karena ga cari tahu lebih awal karena banyak yang menarik dan harusnya ditelaah komprehensif, disortir-sortir, dan direncanakan lebih awal 😒 

Untungnyaaa ada tinder 😎
Tapi pake tinder passport yang berbayar ya gaes especially bcs tinder Jember dan sekitarnya jujurly sungguh beraura maghrib berselimut asap karhutla. 
Kapal di Vasamuseet. Guwedhe pol ini gaes

Jadi kayanya sejak I finally made my payment buat conference-nya (mungkin Maret atau April 2026), meskipun belum yakin bisa berangkat, uda merintis nge-swipe di area2 rencana tujuan wisata gaes akutu. 
Tujuannya sebenarnya cari yang bisa melancarkan perubahan kewarganegaraan tapi sayangnya belom tercapai gaes buat tujuan yang ini adalah untuk cari info dari warlok demi kegiatan wisata yang lebih immersive lah ya. Seperti yang dibilang si mamak2 influenser, kita tu cenderung menarik orang2 yang setipe, jadiiii ndilalahnya dari beberapa yang chat di Swedia, Belanda, dan Prancis, ketemunya tu sama mas2 yang mauuu baca profil guweh baik2 sehinggaaa melaksanakan fungsinya sebagai teman jalan dengan baik πŸ‘πŸ» Rata2 orangnya knowledgeable, baik hati (dibayarin teros aku gaes), no drama, dan bisa maintain a good conversation sambil tetap respecting each other's boundaries gitu. 

Terus mereka itu punya POV historis tentang tempat tinggalnya, jadi beneran cerita2nya enak. Ya secara ye, kalo remaja vintage po maneh psikiater kek sy gini kan emang sukanya tu denger cerita orang, not exactly mentingin poto2 yekan..

Gamla Stan. Kaya rumah Barbie 😍


Jadinya begitulah. Di Stockholm ada yang ngajakin jalan2, dan ternyata dia juga salah satu peneliti yang punya proyek kolaborasi bareng Karolinska Institutet juga, jadi ada sepil2an dikit lah tentang how life actually works there. 
Dari jalan2 ini, kaya ada shortcut buat jadi tahu yang namanya Vasamuseet, Gamla stan, SΓΆdermalm, dan Archipelago boat tour tanpa harus baca ekstensif wkwk. Agak disayangkan karena ga sempet maen ke Skansen open air museum, but.. maybe next time πŸ˜ƒ 
Salah satu pemandangan archipelago boat tour
*manifesting percepatan menjadi crazy rich Asian 

Trus ya udah, sambil jalan2 di Stockholm, ya sambil conference dong guweh. Seruuu, banyak banget ilmu yang sebelumnya kutydack tahu ada, jadi tahu kalo ternyata ada. Dapat banyak POV juga yang bikin jd sadar tentang betapa diverse-nya psikiatri, dan of course it has been a humbling experience, karena beneran beda setting itu kebutuhan kompetensinya bisa jadi beda banget dan kalo mau pindah praktik ke setting yg beda, harus mau belajar dari awal. 
Jadi begitulah Stockholm: dapet jalan2 di old town, museum, sama tour naik kapal. 


Next, Belanda.
Cube houses di Rotterdam

Niken, teman yang di Belanda, adalah teman kuliah yang sudah jadi warlok dan berpraktik dokter di sana, so I thought having some talks bakal bermangpaat lah ya buat memperluas POV. Trus ada personal unfinished issue nih yang pgn sy selesein dengan bantuan teman satu ini, daaan.. I did get what I wished for, and even more! 
I was treated so nicely dengan dianterin jalan2 keliling Rotterdam, ditraktir makan, plus ofkors, sharing life experiencesnya seruuu 🧑 Bocil yang ikutan jalan kemarin juga sangat niiicee, pintar, curious, ceria, cerewetnya agak2 geeky gt. Jadi seneng aja liat bocah yang pinter dan omongannya meaningful, tapi kelakuannya beneran kaya bocah. Tante Inke heart you so much pokoknya bociiil 🧑

Oh iya btw. Dibanding toko souvenir di SE sama Prancis, harga souvenir di downtowm Rotterdam ini sebenernya relatip lbh murah gaes. Cuma karena waktu terbatas, jadi ga sempat beli2 di sana dan yawda lah diikhlasin alhirnya belinya di SE sama FR.

Empang ngarepe gedung DPR Den Haag
Bonusnya, diajakin bike trip sama mas2 di Den Haag yang dia itu (kayanya) salah satu musisi klasik plus aktivis yang cukup reputable di sana. Jadi seruuu, ngengkol sepeda ngelewatin historical buildings-nya Den Haag, area semi rural yang calming, juga disempetin nongkrong di kafe tepi pantai gitu. Terus sama masnya juga dibilangin kalo Hollands itu sebenarnya salah satu provinsinya Belanda (Netherlands), jadi keduanya itu ga sama ya gaes.. Terus tiap provinsi tu punya bendera masing-masing yang dijejer ning ngarep empang di poto sebelah ini. 
Meskipun ada insiden jatoh dari sepeda, boot mangap, dan handle koper cuklek, aku rapopo gaes karena satu setengah hari di Belanda sungguh terlewat secara padat karya. 


Next up, Prancis. 
Apakah dengan ke Prancis artinya saya jadi punya poto eiffel di malam hari dan suasana romantesnya? Jawabannya adalah TYDACK karena mampir Paris cuma di stasiunnya tok aku gaes, buat transit sepur dan luckily bs dapat koper diskonan di sana buat nggenteni koper sebelumnya yang sudah mengenaskan. Meskipun penjual kopernya baik, ga suka aku di stasiun Paris soalnya penunjuk arahnya mbulet dan tidak ber-subtitle, app buat cek jadwal sepurnya mbulet, dan orang2nya ga English speaking, jadi agak sulit ditanyain gitu. Buat sy, kalo next time ke Prancis lagi, unless ditemenin warlok, Paris least priority lah pokoknya. 
Wisata Agromedis area Pulvigner ngarep omahe Indi

Mending langsung ke kota yang lain aja, sepertiiii daerah Bretagne tempat Indi si mamak influenser yang uda 3 tahun jadi warlok Prancis.
Jujurly, pas akhirnya fix kalo bakal tiga hari di Bretagne yang konon kabarnya relatif lebih rural, bayangan guweh tu ye, bakal mostly slow living, stay di rumah, bantuin Indi berkebun, dan ikot ngajakin bocils maen. Jebulnyaaa dibuatin itinerary aku gaaaes jadi bhay lah cita2 guweh buat slow living dan menjadi putri tidur 😒
E tapi seru tauk. Dari house tour aja uda seru bangeett karena isi rumahnya penuh hal2 ajaib cerminan aktivitas padat karya yang tydack kubayangkan I will ever have kalo nduwe omah dewe. Trus ngarep omahe itu padang rumput luwas banget yang kalo pagi ada sapi blangblonteng kaya iklan susu bendera gitu gaes 😍 

Inside the old church in Auray
Trus hari pertama diajakin jalan2 di area Auray, ngeliatin bangunan2 tua dan toko2 lutchuk, plus dianter jemput kentjan dadakan sama mas2 tinder Prancis di lokesyen pelabuhan kapal2 cilik yang namanya Saint Goustan. Diajakin makan croissant yang beneran asli otentik Prancis juga gaes which is ncen beda sama yang versi KW di endonesa that even ilat guweh yang ga patio ngurus sama makanan ini ya.. ngerasain bedanya. Rotinya tu ketoke gedhe kan.. tapi jebulnya tydack mbleneg, but at the same time ga kopong kosongan kaya zonk banget gitu juga. Trus diajak makan di rumah makan Turki tempat temannya Indi which is huwenak, porsine gedhe, diimbuhi pula daging kambingnya gaes. Makanya emang kayanya paling banyak doa mohon penjagaan lingkar pinggang dan angka timbangan ni pas di Bretagne karenaaaa godaannya sungguh tak terkira 😰 Syukurlah jalan kakinya lumayan banyak, jadi waktu sampai di Indonesia, waist circumference dan angka timbangan ga segitunya membludaknya. 

Deretan kapal di Vannes
Day 2 diajakin jalan2 ke Vannes, kota yang relatif lebih sibuk daripada Auray dan Pluvigner. Di sini ada lebih banyak kapal-kapal estetik yang kaya kapal-kapal di telenovela gitu. Trus ada semacam kastil yang tamannya baguuuuss bangeeet, dan toko souvenir dan barang-barang lutchuknya lebih banyak gaaaess, jadi borong souvenir oleh2nya tu antara lain emang di sini. 
Serunya juga, karena kita jalan2nya mostly berdua aja dan ga mampir2 ketemu siapa2, jadi banyak cerita2, termasuk dapet jurus2 jitu melakukan pelet pada mas2 Prancis wkwkwk. Konon kabarnya, di Prancis itu cowok2 susah gaes cari cewe, jadi kalo cewe glowing dikit aja tu di Prancis bakal banyak yang deketin. Jadi (kalo berdasarkan cerita Indi ye) buat kelen mbak2 jomblo kronis yang sudah lelah dengan jalan hidup yang tampaknya tak kunjung berubah itu, budhallah ke Prancis gaes. Kali aja ada yang nyantol...

Anyway. Sekian iklan layanan masyarakat pro reproduksi kali ini, kita lanjut ke hari ketiga.
Bebatuan megalitikum di Carnac
Day 3 diajak naik kereta kelinci ke kota namanya Carnac buat lihat wisata historis bebatuan megalitikum gitu paginya. Konon kabarnya, kawasan megalitikum ini dulunya adalah tempat tinggal kaumnya Asterix & Obelix, dan batu2 gede yang sering dibawa Obelix tu adalah batu2 megalitikum ini. Nah selain punya wisata megalitikum, Carnac ini isine omah2 wong sugih banget yang mostly cuma dipanggoni nek pas summer gaes. Jadi, kalau ga summer, Carnac ini tempat yang woles dan enak buat chill, tapi nek summer kek langsung jadi Seminyak Legian cabang yurop gitu. Oh iya di kereta kelincinya itu, tiap penumpang bisa pakai earphone sendiri2, di mana di earphone itu ada kaya guide buat wisatanya gitu gaes. Guide-nya itu tersedia dalam 14 bahasa kalo ga salah, dan ofkors boso enggres ada lah ya. Trus sepanjang jalan tu bahasanya bisa diganti2 sesukanya gitu, so I also tried the Spanish version dan surprisingly guweh lumayan ngerti gaes so I was like... sungguh tak sia2 kukejar XP Duolingo tiap hari demi ngejoskeun Spanish guweh 😎

Pemandangan kali Brantas cabang Bretagne 😍
Naaahh habis memandang pantai dan bebatuan, diajak mangan oyster sama kerang uwakeh banget to the level of harus mengerahkan segala kemampuan mindfulness biar bisa atur tempo mangan ben entek et causa eman2 kalau nggak entek soale enak wkwkwk. 
Untungnya, habis makan masih sempat ada jeda buat nurunin isi perut, karena acara selanjutnya adalaaahh HIKING. 
Hiking-nya nggak segitunya sih, nothing extreme. Funny thing is, ga ekspek ada hiking, karena Indi tu mikirnya bakal jalan-jalan sama teman2 kelas Bahasa Prancisnya di Sungai bernama du Loc'h which is sengertinya dia, kaline itu adalah di area muara cedhak Port Saint Gouston. Nah ternyataaa sama gurunya tu diajaknya ke bagian semi2 hulu which is munggah bebukitan sambil semi ngebolang cari chestnuts sama jamur which is for me seruuuu 😍 Pas minta tips2 traveling via mas2 tinder tu benernya ada beberapa yang nyaranin jalan2 yang mode hiking, cuma sy mikirnya kaya ga ada tujuan yang mengandung tempat hiking, so maybe next time. Hla ternyataaa ini diajakin hiking sama kelas Bahasa Prancisnya Indi, so it's niiiiceee and it was a lot of fun also: hiking sambil belajar kosakata Prancis dan latihan cerita2 gitu. Interesting way to study, IMO. 

Intinya komplit lah jalan2nya: pantai dapet, gunung dapet, city tour dapet.. dan ngrasain juga berbagai model transportasi: pesawat, kereta, tram, kapal, mobil, sepeda, jalan kaki.. bus aja yang enggak wkwk

Udah? Itu aja?
Tentu saja tidak, karena habis Prancis kita baliiiikk lagi ke Swedia tepatnya di satu kota di utaranya Stockholm rodo adoh yang bernamaaa Γ–stersund. Ngapain? Nonton konseeeerr 😭 
Di sebelah sound engineer-nya banget gaes 😒
Cita2 sejak 20 tahun lalu kan pingin nonton The Real Group di Swedia.. nah kesampaian doooongg.. seneng banget ga seeehh smp pgn nanges terharu. Meskipun personel yang sekarang tu sudah sepenuhnya ganti dari personel awalnya dan ofkors kutydack ketemu om AE favorit akoh, but they're just as good! Lagunya pun masih banyak lagu2 jaman old yang dibawain buuut with some refreshing re-arrangement, so it didn't feel that unfamiliar. Trus ndilalahnyaaa kursiku tu jebulnya di sebelahnya panel sound engineer-nya gaes. Jadi habis konser selesai kan I told the sound engineer that I had a 'lil gift for the team.. naaah sama dia malah dipandu buat ketemu langsuuung sama members-nyaaa dan jadi bisa poto bareng dan ngobrol tipis2 dong kita 😭 They're so friendly and welcoming dan semogaaa beneran segera ke endonesa atau minimal dekat2 sini lah ya biar bisa segera nonton lagiiii *serakah

The colors of the autum are so pretty!
Another nice surprise terkait maen ke Ostersund ini adalah karena daun-daun di sepanjang perjalanan naik kereta dan di area kotanya itu sudah mulai pada berubah jadi warna2 musim gugur gitu. When I first arrived in Stockholm, gotta say I was slightly disappointed karena daun2nya rata2 masih pada ijo, padahal pengeeeen banget ngrasain autumn dengan segala warna orens coklat reddish yellow-nya itu. Syukurlaaah ternyata bisaaa dapat vibe ini di Ostersund. Jadi meskipun sempat ngerasa agak gedubrakan juga karena Ostersund ini mengubah jalur pulang yang awalnya dari Vienna jadi ke Stockholm, but I don't regret it at all karena somehow I will remember this place as a place where dream(s!) do come true πŸ˜ƒ 


That being said, kurang lebih begitulah cerita jalan2 yurop dua minggu terakhir ini. It was a lot of fun and tranquility for me, and I did reflect quite a lot during those two weeks. Tentang apa aja reflecting-nya? Nantikan di post berikutnya kalo ga males ya πŸ˜ƒ

Sunday, 4 October 2026

Cerita EU trip part 1 of embuh - Lessons learned: Transportasi dan Akomodasi

Note: Ini cerita dan kesan pribadi yes. Might be relevant to you, might be not.


Setelah dipikir-pikir lagi, perjalanan kali ini ternyata memang cukup beda sama perjalanan-perjalanan luar negeri sebelumnya karena setidaknya beberapa hal berikut:
  • Ini jalan-jalannya ke yurop (my route was Sweden – Netherlands – France – Sweden, btw), bukan Asia dan sekitarnya yang masih isok bendino mangan sego like damn sampe guweh ngidam sego gegoro panganan presbyrΓ₯n alias indomaret Swedia isine roti tok, toiletnya masih pake bidet, dan orang2nya in general cukup conversant and less individualist
  • Durasinya lebih lama dan proporsi ilmiah/essentials-nya lebih kecil daripada liburannya, which somehow got me realized.. ternyata emang I suck at planning a holiday trip gegara kebanyakan kerja wkwkwk
  • Aaaannd talking about planning, ya iya sih I planned some things buat berangkatnya. However, other than tanggal berapa ada di negara mana dan jadwal conference yang udah jelas, I hardly planned anything to do buat di sananya, dan agak nyesel juga jadinya karena ya.. gitu deh. Jadi ada beberapa momen “yah.. if only I had blab la bla” tapi kek… yowes gapapa, soalnya moments of luck-nya juga banyak jadi anggap aja impas :p

Long story short (ya ga short2 banget juga sih kayanya), I didn’t plan this trip that well. Alasan utamanya klasik: waktu buat planning terbatas. Keputusan buat actually berangkat itu baru muncul di bulan Juli (setelah udah pasti ada yang bisa diperbantukan buat nggantiin di RS selama saya pergi). Nah habis Juli kan Agustus which is the start of semester gasal yang manaaa jadwal guweh ngasi kuliah praktikum dll itu kepadatannya uda kaya KRL di jam berangkat dan pulang kerja. Terus masih harus nyiap2in buat visa application, jadwal konser The Real Group yang baru nongol setelah ngajuin visa (which is bikin perlu re-routing dan re-scheduling), belom bikin poster yang mau dipresentasiin di acara ilmiahnya… jadinya ya udah. Yang penting tiket berangkat dan pulang uda kepegang, visa keluar, penginepan di hari-hari awal sudah dapet… sisanya mostly berangkat modal iman dan taqwa.

Nah karena modal iman dan taqwa inilah, makanya saya juga uda menyiapkan mental bahwa kalau nanti ada banyak hal yang dirasa ga oke, ya udah terima aja. Udah nyiapin extra cash dalam jumlah lumayan juga, just in case perhitungan saya salah, dan turns out EMANG SALAHNYA LUMAYAN GEDE sodara sodara karenaaaa kurs yurop mah jaoooh sama kurs negara yang lagi kampret2nya tapi pimpinannya ga sadar ini wkwkwk. Untung masih ada aja jalannya, jadinya ga sampe harus ngemper di kolong jembatan lah ya, karena ga banyak jembatan yang bisa dicari kolongnya juga sih di sana..


That said, it brings us to lesson number 1: Unexpected spending-nya itu ternyata banyak di ONGKOS TRANSPORTASI.

Ya namanya warga endonesa, pikirku nek sepur ki kan mesti luwih murah yak dibanding pesawat tetapi jebulnya ora wkwk. Kalo masih kereta lokal atau intercity dalam satu negara, mostly emang affordable, tapiiii kereta antar negara tu ternyata rate-nya hampir sama kaya pesawat, sehinggaaaa

Tips #1: Kalo perjalanan naik kereta antar negara sama gugel map dibilang >10 jam, kalo ada jalur alternatip naik pesawat, mending naik pesawat aja. Selain menghemat waktu dan tenaga buat di perjalanan, kadang pesawat malah lebih murah. E tapi liat2 bagasinya juga ya. Soalnya pesawat sini ongkos bagasinya yang kayanya mahal, but wait. Ini  nanti terkait tips yang berikutnya.

Tips #2: Buat jadwal keberangkatan yang fleksibel, karena harga tiket sepur interlokal dan internasional itu bisa beda jaaaauhh banget di jam yang beda (kaya harga tiket pesawat gitu). Nah karena jadwal saya lumayan tight dan mostly jamnya nggak fleksibel, jadinya emang ada tiket yang bayarnya lebih mahal. Another lesson learned IMO adalah bahwa liburan itu mindset-nya harusnya mindset liburan yang lebih chill dan woles, ga bagbugsatset kaya lagi kerja. Tapi ya.. yowes udah kejadian, diikhlasken. Habis ini kerja keras bagai kuda lagi lah kita, biar bisa segera ngumpul lagi dana buat liburan versi woles-nya wkwk.

Alternatively, kalau jadwalmu nggak fleksibel, kita masuk keeeee:

Tips #3: Make a freaking good plan of your transport schedule JAUUUUH SEBELUM HARI H, especially yang interlokal dan internasional. Jangan beli tiket last minute karena laraaaang L Susun jadwal perjalanan berdasarkan jadwal pribadi yang uda jelas, jangan dipas2in sama jadwal mas2 tinder yang masih pake nego2an wkwkwk. Kalo ga kasi kejelasan sampe H mines sekian, skip aja. I mean… the possibility of exploring different cities in different countries itu exciting dan seru kalo diomongin, tapi ga seseru kalo dilakoni tenanan, apalagi dilakoni sambil memantau saldo. Beraaaaattt wkwkwkwk

Tips #4: Pilih akomodasi yang within walking distance dari bus stop/stasiun atau yang ada free airport shuttle-nya biar ongkos transportnya ga mahal. Ini terkait juga sama jadwal yang fleksibel itu, karena dua kali saya naik pesawat tu arrival-nya di jam2 mbak kunti uda waktunya keluar gitu, jadinya jadwal airport shuttle-nya juga wis entek. Kenapa perlu gitu? Karenaaa kalo ga gitu, maka kita harus numpak taksi dari airport ke penginepan which is usually larang, bahkan sekalipun taksinya taksi legal bandara. Like numpak kereta lokal tu 7 euro, numpak taksi bisa 20-30 euro dewe. Yes, transport LOKAL aja tu rate-nya segitu gaes. Bayangin sendiri dah reganya sepur interlokal dan internasional berapa. Ada yang harganya tu gaji pokok ASN sebulan ga cukup pokoknya :p

Tips #5: When available, pakailah app buat transportasi lokal dan belilah pass-nya kalau stay selama beberapa waktu di suatu negara. Tengs to pemegang KITAS Edinburgh dengan jejaring internasional terpercaya ini, buat 6 hari di Swedia saya jadi beli SL pass 7 days yang bisa dipake unlimited berkali-kali buat naik kereta, bus, dan kapal yang termasuk dalam cakupan app SL. Harga yang 7 day pass kayanya setara 10x naik kereta which is jadinya emang hemat banget karena dalam sehari tu bisa berkali2 naik kereta, esp. kalo impulsifnya kumat dan semacam, “oh iya, kan pengen liat ke sana.. gas ke sana lah sekarang; sebentar aja gpp yang penting uda tahu” gitu.

 

Jadi begitulah sekilas info terkait transportasi. Sekarang masuk ke lesson number 2: AKOMODASI.

I set a specific price range buat milih akomodasi ini karena belom crazy rich yekan.. dan (at least dari negara-negara yang kemaren saya datangi) ada beberapa hal yang mungkin elo elo sekalian perlu tauk:

Tips #1: Siapin minimal sejutak buat semalem, karena hostel pun rate-nya udah di 700-800an. Kalo ada yang di bawah 1 jutak dan bukan hostel, biasanya review-nya huwelek dan tydack recommended. I used booking(dot)com buat pilih2 karena IMO di sana pilihan lumayan banyak dan ya udah familiar aja sama app-nya karena dari dulu sudah sering pake. Oh, selain hotel, pilihan buat attraction-nya juga lumayan banyak; dan sekarang uda bisa bayar pake debit card, jadi gosah bikin cc apalagi cc nyebelin kaya yang bikin di M*ndiri kemaren gapapa.

Tips #2: Cari penginepan yang ada fasilitas laundry-nya biar bisa travel light dan gosah bayar ekstra buat bagasi. Lagian males banget sumpah kalo banyak transport sana sini dan harus nggeret barang bawaan satu pikep sendiri. Ingat gaes, di yurop tak ada go-car atau grab, dan taksinya laraaaangg. Jadi pastikan barang bawaanmu pedestrian-friendly wkwk.

Btw, laundry ini biasanya free, tapi ya jangan ngarep ada petugas hotel yang dateng ke kamar buat ngambil terus ntar dibalikin lagi ya.. NGUMBAHO DEWE. Di Swedia, utamanya, hotel itu mostly ga ada resepsionisnya. Masuk hotel dan masuk kamar tu pake nomor pin yang dikirim lewat email, dan kabeh2 urusen dhewe, termasuk londri ini. Buang sampah aja kudu ngguwak dhewe gaes. Kalo eloh ninggal sampah di kamar pas mulih, ada additional cleaning charge. Jadi ga bole manja dan harus mandiri yes.

Oh iya, kalo di Sweden kelen nginep di tempat yang bilangnya tu “aparthotel”, biasanya kamarnya tu dilengkapin sama mini kitchen dengan kompor, microwave, alat2 makan dan masak, sama electric kettle gitu. Jadi bisa gaes kalo mau bikin indomie sendiri di kamar hotel buat ngirit beli makan di luar.


Apa lagi yak? Itu dulu buat part 1 kayanya. Info2 spesifik semi2 endorse-an tak berbayar akan menyusul di post berikutnya bcs I do have sooooo much to tell wkwkwk


Sunday, 31 May 2026

Now Reading

Minggu ini banyak libur dan kayanya saya PMS juga sehingga kombinasi antara waktu luang yang sedikit bertambah dan emosyen yang relatif lebih sensitif itu tentunya adalah perfect combo untuk terjadinya kontemplesyen time dalam rangka menelaah hidup sekian tahun uda ngapain ajah. However, karena sayangnya 'manic ngambis' part of the brain-nya ternyata kelupaan nggak di-switch on sama si hormones, my brain isn't quite braining πŸ˜’

Maka jadilah produk kontemplesyennya itu bukan rencana hidup jangka pendek, menengah, dan panjang yang terstuktur. Bukan juga any scientific atau valuable piece of serious writing. Bukan juga selesainya tugas-tugas yang cukup penting sebenarnya sudah menumpuk tapi ya tetep ga dikerjain aja karena masih males. Bukan juga perbaikan pola makan dan olahraga menjadi lebih sehat dan teratur. 

Instead, my produk kontemplesyen (antara lain) are these:
  1. Komitmen bahwa saya akan berusaha lebih keras untuk lebih rutin nge-blog dan apdet comeback kpop di tiap tanggal 1 sekalian bayar tagihan-tagihan bulanan
  2. Munculnya kekuatan untuk membuka kembali craft bag yang sempat lama terabaikan, sehingga tanggungan jahit-menjahit (70%ish) selesai MESKIPUN OFKORS KERJAAN UTAMANYA TETAP BELOM SLESE YA dan I kinda have a better picture of mau diapain sisa-sisa perca-perca yang masih ada di craft bag, so it's kinda more organized, I think.
  3. Ide brilian bahwa blog post pertama yang akan saya rilis setelah sekian lama tidak posting adalah tentaaaaangg... jeng jeng jeng.... REVIEW WEBTOON. Kenapa review webtoon? Karena selama seminggu terakhir saya sudah maraton tidak hanya satu, tapi TIGA webtoon baru which turns out contributes kinda significantly to durasi screen time yang ofkors so so membludak. Apakah webtoon2 baru ini sangat penting, meaningful, moving, inspiring, dan kualitasnya impressively great? TYDACK. But I'll do the review anyway because one, it gives me some good illusion that I'm productive; and two, MY BRAIN IS JUST FRIKKIN' NOT BRAINING SO I JUST CAN'T GET MYSELF INTO GETTING THE PAPERWORKS DONE, so why not continue the avoidant phase for a while and keep running away from actually dealing with the problems mumpung masih liburan yekaaann... *)
*) Note: JANGAN DITIRU :p

Anyway. Disclaimer first yes: 
  1. I can't promise that there won't be any spoilers.
  2. Ini murni opini guweh. I'm a 40 y.o. female ber-otak JowoEnggresEndonesaSpanyolKoreya dengan life story dan preferensi tertentu yang ofkors ga bakal entirely sama dengan Anda yang baca review ini. So, whether you agree or disagree, I'll only take it really seriously kalau pendapat Anda itu berhubungan dengan your willingness buat transfer (atau nggak transfer) satu miliar dolar ke rekening bank saya. Kalau satu miliarnya kurang dikit aja, monmaap tapi tolong ngosah ngamok kalo saya ga segitu mikirinnya yes.

I'll start with titles I marathoned first.
Title one, STICK TO THE FRIEND ZONE. Two words: B aja. Gambarnya bagus. Ceritanya not that irritating dan mudah dipahami, tapi ga ada plot twist, predictable, trus personality dan psychodynamic karakternya ga terlalu jelas kaya pasien-pasien yang ngarang cerita dramak ngalor ngidul padahal cuma mau minta xanax. Setelah beberapa episode dan ku tetap merasa KENAPA TAK MUNCUL JUGA GREGETNYA, akhirnya saya buka episodenya loncat-loncat and I don't feel like I miss anything, so I'm grateful this series ends at episode 60 karena I don't really feel that the coins are worth spending, unfortunately.

Title two, EX-LOVE REVIEW. Sinopsis dan awal-awal ceritanya agak kurang meyakinkan, tapi semakin ke belakang jadi lebih seru. Emotional layers sama dinamika interaksi antar karakternya lumayan seru tapi masih making sense. Ga cuma FL dan ML aja, tapi juga karakter2 pendukungnya. Hal lain yang (ternyata) saya suka dari suatu storyline adalah ketika karakter2nya itu kaya bisa belajar dari pengalaman dan gradually changing POV dan personality berdasarkan pengalaman itu, karena IMO yang kaya gini ini bikin cerita jadi lebih "rich" dan ga ketebak. Ini webtoon-nya masih ongoing, btw, jadi I have another title to look forward to, and it's nice. I don't regret throwing coins for this title.
Beberapa waktu yang lalu sebenarnya ada webtoon yang saya baca yang IMO konsepnya agak mirip, yang judulnya "How to Romance a Max Level CEO." Awalnya kaya seru, but I didn't continue karena personality FLnya ky semakin lama semakin 'ilang' dan personality ML-nya tak kunjung muncul jadinya kutydack sabar sehingga kusetop membaca.

Title three, PARENTING FIRST, LOVE LATER. Ini half marathon si itungannya. Serial baru, dan baru jalan 10 episode. Gambar bagus, past stories FL dan MLnya cukup berpotensi untuk untuk diolah jadi cerita yang bagus, cuma yang agak malesin adalah protagonis antagonisnya too obvious, at least sampai sejauh ini ye. Semogaaa ke depannya psychodynamic layering-nya bisa semakin oke dan ceritanya semakin seru. 
       


Next, let's get to the titles I'm currently reading.
Untuk yang setting-nya SMA, ada GIRLS' WORLD. Ini webtoon bacaan sejak zaman masih sekolah dan sampai sekarang masih seru-seru aja meskipun sudah semakin dekat ke arah tamat. Gambarnya nggak yang buagus banget sih benernya, tapi flownya tu ada aja, dan dialog-dialognya semacam mengandung aura gen alfa yang penuh ke-asbun-an tapi ada cute-nya juga di genuineness-nya. Karakter2nya punya personality yang kuat, dan dinamika interaksinya sangat 'SMA banget' yang cheesy tapi meaningful juga. Kayanya bakal kehilangan kalau webtoon ini ntar beneran tamat, tapi ya.. it leaves a good (long) memory, jadi gapapa.

Yang setting kehidupan perkuliahan, ada HOW FAR IS TOO FAR. Ini rating-nya 18+ ya, jadi emang ada adegan2 eksplisitnya yang IMO kadang redundant dan kalo hormonal setting lagi ma match sama ceritanya, hasrat untuk ngamok dan minta koin dibalikin itu kadang gede juga wkwk. However, tetep saya ikutin karena dialog-dialognya make sense dan interaksi antar karakternya cukup natural. Beberapa masalah yang diangkat juga cukup kekinian jadi berasa cukup relate dan kaya penasaran aja, kira-kira anak kuliahan jaman now kalau berhadapan sama masalah kaya gini, bakal jadi kaya gimana ya? Kira2 gitu.

Nah yang agak banyak ini yang di setting kerjaan kantoran: ISEOP'S ROMANCE, MEET ME IN THE MIDDLE, dan IT's JUST BUSINESS, 
Kesamaan dari ketiganya adalah ceritanya yang membahas tentang bos cowok yang getting personally involved sama karyawan ceweknya. Nah tapiii yang saya suka adalah bahwa penggambaran FL dan MLnya itu bukan tipikal yang bos cowok berkuasa dan karyawan yang membuat bos tertarik karena kecantikannya gitu. Instead, di tiga series ini, karakter FLnya digambarkan sebagai karakter yang sangat kompeten, hardworking, dan goal-driven gitu. Interaksi FL sama ML-nya cenderung equal, nggak straightforward hierarkis dan instruksional meskipun hubungannya atasan bawahan. Alur munculin konflik-konfliknya itu enak temponya, dan problem solving-nya itu realistis dan sesuai konteks latar cerita; ga ada yang magis WTF gitu. Selain itu supporting characters-nya juga oke kaya semuanya punya peran yang memang diperlukan untuk membuat ceritanya jadi komplit; ga ada supporting characters yang redundant. Saya ngerasa psychodynamic depth-nya dapet, tapi (kalau buat saya ya) di level cukupan aja, bukan di level yang makes me feel like "aaaakkkk susah sekali psikodinamik ini aku mau balik CBT ajaaa", so these three are my current favorites.

Ada satu lagi yang judulnya GO GO PAPA! yang seru konyol lutchuk dan penuh dialog asbun tapi ga bisa ngamok karena ya jebulnya guweh ikot ketawak juga. However, cerita yang ini tidak memenuhi kebutuhan saya untuk belajar tentang membuat storyline dan conflict build up/resolution yang bagus, jadi ya.. buat seru2an aja.


Selain yang NowReading, ada dua judul yang sudah tamat that I used to read: HI, MOMMY! dan HAVE AN AFFAIR WITH ME. Keduanya punya kesamaan berupa 80% bagian awal cerita yang oke, compact, psychodinamically satisfying, dan problem layering-nya oke... yang sayangnya ditutup dengan 20% bagian akhir yang terasa antiklimaks dan superfisial. Jadi bacanya tu berasa kaya lagi maraton ngasi psikoterapi gitu: pas di awal-awal masih gaspol, niat banget ngulitin masalah sampe kecil2... tapi pas di akhir uda siang, uda laper, energi uda terbatas, dan jadinya lebih banyak ke nyuruh pasien acceptance dan crisis mitigation planning tipis2 aja. Still pretty solid stories, though, so I give'em⭐⭐⭐⭐
   

Ada juga yang lagi hiatus tapi kutunggu kembalinya karena ceritanya masih banyaaak yang belom di-reveal, yaitu MEN OF THE HAREM dan A CHILD WHO LOOKS LIKE ME. Gosah saya bahas ya. Ntar aja kalau uda ga hiatus (mungkin) dibahas.


Anyway. Kalo lihat judul-judul di atas, hampir semuanya dealing with romance thingy karena ya monmaap emang saya aslinya cemen jadi ya gemana yak... 


However, ada juga judul-judul yang lead-nya cowok dan much less romance focused yang sempat saya ikutin: PEACEFUL CAMPING LIFE IN ANOTHER WORLD dan REALITY QUEST yang masih ongoing, dan UNLOCK MY BOSS yang sudah tamat. 

"Unlock My Boss" IMO bagus. Ceritanya imajinatif tapi realistis at the same time. Plotting konspirasinya lumayan sulit ketebak, tapi nggak yang bikin sakit kepala dan esmosi banget. Justru seru dan somehow jadi lumayan contemplating lyfe tapi di aspek-aspek that I don't usually touch on, jadi it's quite a fresh experience, and I really enjoyed reading it.
"Peaceful Camping Life in Another World" dan "Reality Quest" konsepnya agak di luar nurul but in a good way.. tapi setelah agak panjang, flow-nya jadi lebih predictable dan kurang menginduksi penasaran. That being said, I'll probably get back on reading them later kalau episode gratisannya sudah cukup banyak terkumpul dan akan kubaca sekaligus karena ya itu... kaya kurang nampol aja ceritanya kalo dibacanya satu per satu.



Huwokeeee. I guess that's it. Wis ngantuk aku. Turu dhisique. Bhay!

Tuesday, 15 July 2025

Sepanjang Jalan Kenangan

Ada multi-stage contemplation yang sudah berlangsung sejak pertama kali saya punya diary (i.e. pas kelas 5 SD kayanya wkwk) hingga bisa sampai di level ketika saya yakin kalau saya memang ingin jadi psikiater. Kayanya sih awalnya karena during my annoyingly explosive teenage years, I felt like I got misunderstood A LOT and many times I was like.. WHY? Why is it so hard to understand me? I'm generally pretty straightforward and sometimes I even put extra effort to make things simpler, but why can't I still be understood? Well later on I learnt that sometimes straightforwardness itu yang bikin masalah sih karena ternyata lebih sedikit orang yang ga esmoshit kalo di-straightforward-in dan kalo namanya orang uda esmoshit itu biasanya ya bhay, konten omongannya uda ga bakal didengerin lagi; pasti salahnya. Cuma ya thanks to my lemot brain, I learnt it late kan wkwkwk

Jadi di awal tu motivasi saya belajar buat berkomunikasi dengan lebih 'bener' itu adalah biar people misunderstand me less so I fight less and I have more time for ngapalin lirik lagu dan fangirling. Nah namanya komunikasi ini kan banyak berurusan dengan kata2 yekan.. trus ndilalahnya I like reading and writing quite a lot, dan kalo berurusan sama lagu, I surprisingly put more focus for the lyric. Jadinya during my younger years, I had fun playing with words and somehow kinda built my sensitivity to implicit 'nuances' that go beyond the actual words spoken, and also my tolerance to multi-interpretation of certain events of communication. Nah ada masanya awareness terhadap hidden meaning dan multi-interpretasi itu agak overwhelming, gotta say, and I felt like.. ini otak manusia ni rumit amat kerjanya, dibikin simpel aja bisa ga sih? Kalo di-permak2 dikit bentukan otaknya gitu.. bisa kali ye jadi lebih simple.. Gitu mikirnya, sehinggaaaa ada masanya, bercita-citalah saya jadi dokter BEDAH SARAF karena mau permak, ndempul make over otak itu tadi. Namuuunn, tentu saja hidup tidak semudah itu, Ferguso. Dengan cepat saya menyadari bahwa pendempulan otak seperti yang saya bayangkan itu is not exactly what neurosurgeons do, pluuuuss dapat info juga bahwa tindakan bedah gitu itu might take loooongg hours, needing looootss of stamina... plus later on I found out that dexterity saya jebulnya bosok yha sehinggaaa, berkarir jadi Sp.BS? Maaf, nggak dulu, makasih. I still want to learn to help people (including myself) 'fix' their ways of self-expression and relation. However, to do that with the sacrifice of kehilangan waktu buat musik2an dan fangirling, it's a big no-thanks for me karena I'm not happy without those things dan waham saya berkata bahwa if I don't live happily, I'm in no capacity of sharing happiness to others. In another words, misi guweh buat mempermudah hidup orang, akan jadi mission impossible.

Maka jadilaaah, saya mempertimbangkan jalur karir lain: psikiater, psikolog, diplomat, english teacher (yes I did consider mlebu HI or ngajar enggres, partly because TOEFL 500+ is kinda effortless for me *kibas rambut *iye ini flexing *I don't humble brag, I BRAG). Terus kenapa akhirnya milih masuk FK dan jadi psikiater? Apakah karena kedokteran itu jurusan paling bergengsi, menantang, dan passing grade-nya paling tinggi sehingga nantinya saya bisa membanggakan prestasi saya masuk FK UGM pada seluruh tetangga dan sanak saudara? Oh TENTU SAJA TIDAK. Saya masuk FK UGM karena ujian mandiri UGM itu duluan dibanding ujian masuk PTN yang nasional, dan di UGM itu psikologi-nya termasuk IPS. Aku tu males gaaaesss nek ujiane kudu njupuk  IPA karo IPS alias IPC karena selain ofkors MALES SINAUNE, ujiane suwi which is too much for my attention span yang pastinya akan meronta disuruh duduk segitu lamanya saat seharusnya ku bisa jalan2 menikmati suasana Jogja 😝

Jadi ya sudah, masuklah saya ke FK, terus PPDS Psikiatri, trus lulus jadi psikiater. Gitu doang? Ya nggak lah 😜 Dalam perjalanan itu saya juga jadi semakin yakin bahwa memang I'm more into words instead of hand works (bhay neurosurgery!), I'm more into people instead of tools (bhay -again- neurosurgery! Bhay lab-related sciences!), I'm more into high quality + in-depth few interactions instead of mass + generalized ones (bhay public health medicine!)... dan bahwa saya ini wanita murahan yang tak suka barang2 mahal and that I feel satisfaction when I could get things work secara low budget. The works I enjoy the most are the ones that mainly use myself as an instrument: psikiatri, nyanyi, nulis yang yowes pake bulpen laptop HP aja uda beres... such things. That being said, jadinya, di tengah kehidupan masyarakat kolektivis berazaskan sila keempat Pancasila yang mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan ini, kalau saya mau semacam 'egois', lebih mudah buat saya membahasakannya jadi, "I have to take care of myself because I am the instrument of my work for the community. If my condition is sub-optimal, then my service to the community would be sub-optimal too" Gitu. Cerdas kan taktik saya untuk melegalkan keegoisan 😎

Jadi begitulah. Saya jadi psikiater dan salah satu minat utama saya memang di psikoterapi karena itu tadi: saya makhluk low budget (bhay psikiatri biologi! Bhay biomolekuler thingy!) and I prefer to use myself as an instrument. One other important reason of me being interested in psychotherapy ini adalah karena IMO subdivisi inilah yang paling berperan buat mendukung saya untuk lebih bisa mengapresiasi the little magics in life and find happiness from those magics. Makanya sempat ada masanya saya bertakon2 napa sih (kayanya) banyak dokter (termasuk psikiater) attached amat sama ngasi obat padahal yang 'nagih' dari kerjaan psikiater itu adalah those small magics. Well although later on sy nyadar juga bahwa: 
1) I don't think like most people, jadi emang otak saya aja yang suka ngide2 sendiri dan akhirnya jadi punya pikiran kaya gitu; 
2) Vibe pendidikan psikiatri jaman old yang (kayanya) emang lebih favoring kompartementalisasi (mind vs body, psikolog vs psikiater, etc.) instead of kolaborasi (yang lately lebih trending), mungkiiin berperan juga dalam kecenderungan itu dan sticking mostly to prescribing was like a method to keep us safe in our compartment, so.. that's just what was 'necessary', I guess.  

I just can't shake it, though, bahwa it feels more right to do it holistically, and flexibly when it comes to the pharmacotherapy vs non-pharmacotherapy regimen. Emang capek, really, to be holistic; dan kemungkinan untuk burnout itu jaaaauhhh lebih tinggi dibanding ketika you simply stay in your own compartment, tapiiii in this case saya anaknya FOMO-an wkwk. I don't wanna miss out on life by 'neglecting' those aspects that makes someone an μ΄μƒν•œ ν•˜λ‚˜. By keeping myself tuning in to these things, rasanya tu kaya semakin gampaaaangg buat bahagia, dan IMO, ternyata salah satu privilege terbesar jadi psikiater itu adalah karena saya bisa bahagia secara low budget *eeeaaa ujung2nya balik lagi ke sini yeee. Dan karena I feel like I can be happy due to small daily things, I have more resources to keep standing firm despite whatever life throws at me. I feel invincible and confident that I can always get back up despite whatever defeat I might face *BG sound musik heroik lalu muncullah ultraman untuk membasmi para monster 

Jadi begitulah gaes. Kalau jadi psikiater itu, kamu tu bisa bahagia dan merasa berprestasi (antara lain) cuma gara2:
1 Ada manusia (read: pasienmu) yang AKHIRNYA gelem ADUS. Bapak emak kalian tidak mengapresiasi kalian karena kalian ga rengking satu di kelas atau gegara skripsimu ra rampung2? Maen ke psikiater/psikolog aja gaes. Kita bisa banget mengapresiasi kamu just because you are gelem mudhun seko kasur terus ADUS terus budhal sinau atau nemoni dosen pembimbingmu *kok jadi mengandung promosi
2 Ngelihat orang yang dulu ra nyambung blas (gegara masih episode psikotik) jadi bisa cerita kalau dia udah bisa nikah, kerja, dan bahkan menenangkan pasangannya pas mereka lagi ada masalah
3 Ndenger seorang abege (dan emaknya) bilang kalo si bocil mau nyoba sekolah lagi setelah empat tahun off gegara (antara lain) ada riwayat di-bully sampe takut ke sekolah
4 Ngelihat perubahan dari manusia yang dulunya sering nangis dan bentar2 bilang pengen mati, tapi sekarang sudah bisa lancar cerita pengalaman-pengalaman hidup yang buat dia menarik
5 Ndenger abege (lagi) bilang "makasih Dokter" setelah sekian tahun ketemu ini bocil tapi blaaaass ga denger suaranya dan akhirnyaaa bocahnya mauuuu ngomoooonggg sama guweeeh, dan kata pertama yang dia bilang bukan kata2 mutiara dari neraka wkwkwk 

Of kors masi banyak lagi yes momen2 daily magic gitu yang the more I have it, the more I realize: μ œκ°€ 제 μƒν™œμ΄ λ„ˆλ¬΄ μ’‹κ³  ν–‰λ³΅ν•΄μš” and I wouldn't want it any other way πŸ˜€
   

Thursday, 13 March 2025

Learning Lyfe

DISCLAIMER: 
ada BANYAK omelan dan kata2 serupa 'kata mutiara dunia setan' di sini, jadi kalo kelen lagi sensi atau laper atau butuh pencerahan, jangan di sini cari siraman rohani dan ketenangan jiwanya; GA BAKAL DAPET 😏
  
Setelah dibaca ulang, ternyata tiga dari empat resolusi 2024 saya GAGAL wkwkwkwk.

Resolusi pertama untuk lebih banyak membaca dan menuliskan hasil bacaan sampai selesai jadi paper mostly tercapai sih, which is nice meskipun semi nanges-nanges karena tidak hanya sekali ketercapaian resolusi ini terjadi dalam posisi kepaksa dan kepepet. Kebanyakan yang saya baca di tahun 2024 kemarin tentunya adalah referensi tentang DBT karena 2024-2025 kan memang dalam proses proses menjalani kegilaan pelatihan itu, dan ada lumayan banyak tugas bacanya. Kebanyakan hasil baca referensi DBT ini nggak jadi paper sih, but I did read about other topics. Salah satunya adalah tentang depiction of mental health problems in the social media yang akhirnya jadi paper-ish yang dengan kekuatan menebalkan muka plus koneksi ordal yang bisa dipresentasikan di acara pertemuan ilmiah yang... ya pokoknya bentukan gue jadi kaya orang bener lah by presenting in that event 😎 Ya meskipun pake acara cemas galao nge-blank ga konsen gegara memunculken niat buat bikin ppt-nya itu adalah tydack semudah itu Ferguso, but I did it. Definitely not astonishingly, but I frikking did it. I mean, I still don't really feel satisfied karena I don't have any new writing published dan dua artikel yang publish di jurnal tahun 2024 itu semuanya sebenarnya paper lama yang baru menemukan jalannya buat muncul, tapi ya.. yawda lah. Let's call it a success gapapa 😜

Resolusi kedua tentang lebih sering diterima buat donor darah ternyata LEBIH GAGAL dibanding tahun sebelumnya which is koyoke aku orak donor blas sepanjang 2024. Bonus point, kalau sebelumnya saya biasanya ditolak HANYA karena belum bisa keluar dari identitas sebagai sobat tensi minimalis, tahun 2024 ini saya ternyata dapat identitas baru sebagai sobat anemis Indonesia karena pas mau donor, selain tensinya, ternyata Hb-nya juga kurang 😭 I mean I think I ate okay, I maintained enough water, I think I worked kinda regularly (not excessively), exercise juga ga gitu2 amat.. tapi kayanya memang kualitas zat gizi makanan sama work/life balance-nya perlu diatur lagi biar sehatnya lebih optimal.

Resolusi ketiga tentang balikin LHDM dan skripsi tepat waktu itu.. emang masih susah ya bund 😒
I mean, ada sih sediiiiikiiiitt LHDM yang saya balikin dan waktu tunggu koreksian skripsi saya sebenarnya sediiiikiiiitt memendek dari sebelumnya, tapi ya.. I need to work better on this lah. Diatur lagi jadwalnya. Yuk bisa yuk..

Resolusi keempat tentang keeping the streak and my place in the Diamond League di Duolingo itu.. sebenernya ga gagal-gagal banget sih. Streak masih jalan meskipun dengan ntah berapa streak freeze yang kepake dan I was only demoted to the Obsidian league for a week, tapi ya.. let's call it a failure gapapa soalnya saya ga se-sebel itu sih kalo fail dalam hal ini wkwkwk


However, wish list-nya ternyata terkabul bund, meskipun yang satunya relatif masih parsial dan yang satunya not exactly di 2024 terkabulnya, tapi ya gapapa. It still feels good πŸ˜€ 


Meanwhile, yang relatif parsial itu adalah when I mentioned in my 2024 wish list that I kinda wanna have more efficient and organized psychotherapy sessions. Well I'm still not having them, buuuttt in 2025 I have finally completed pelatiyan intensip DBT setelah setahun lamanyaπŸ‘πŸ‘πŸ‘ and I think this training teaches a lot about how to structure a psychotherapy. Not only that, it also feels great for at least two other reasons. 

Pertama, jadi kaya punya support system baru, karena di training ini kita di-grup2in gitu dan suka ga suka selama setahun tu harus bonding sama teman segrupnya in a supportive manner (karena itu bagian dari tugas pelatihannya wkwkwk). Mungkin emang di awal kerasa kaya tugas aja ya, tapi semakin lama karena kebetulan orang2nya mostly seru, well-intentioned, dan pada semangat juga belajarnya, akhirnya jadi kaya ada sirkel baru yang positip vaib gitu lo... yang bisa saling surhat, dan kalo mau saling kritik tu 'terkondisikan' buat membahasakan kritiknya se-matter-of-fact mungkin dan sebisa mungkin mengkritiknya harus tetap mengandung validasi (ini juga pelajaran dari pelatiyannya wkwkwk), jadi being criticized itu jadi less scary dan (at least di saya ya) rasanya jadi less reluctant buat being defensive juga karena kaya.. hlah ngapain guweh depensip orang ga ada yang nyerang? Waham curiga dong guweh kalok depensip... Kek gitu kira2 rasanya. Jadi akhirnya 'kepaksa' melatih diri buat chill, wise, santuy, ga ngegas-an, woles, dan segala teman2nya itu... dan ya ofkors the more I practice it, the more I internalize it jadi saya ngerasanya juga jadi bisa lebih sabar. Makanya meskipun negara dan situasi sekitar lagi totally like πŸ’© status WA saya tetep mostly kpop aja dan mostly masih bisa nahan diri ga terlalu ikutan ngomenin negara karena sesungguhnya saya sedang merencanakan untuk kabur sejauh2nya dari negara durjana ini ngiahahahahahahahahahaha *ketawa mertua antagonis sinetron Indosiar. 

Kedua, saya jadi dapat validasi yang lebih holistik untuk letting go and this state of letting things go has somehow given me the feeling that I realized I haven't felt for quite a long time: FREEDOM. The genuine and heartfelt kind of freedom. Trus jadi keinget lagu lamanya Madonna yang judulnya "The Power of Goodbye." Saya jadi sadar kalo this song didn't really 'mashok' into me when I was a teenager, tapi sekarang jadi lebih mashok, terutama di lirik yang bilang:
"Freedom comes when you learn to let go, creation comes when you learn to say no"
dan mungkin ada benernya juga kalau di chorusnya ada lirik "there's no greater power than the power of goodbye" karena mungkin memang iya. Saya juga jadi mikir apa jangan2 ini pertanda bahwa saya beneran harus lebih banyak baca kitab dan ajaran Buddha karena kayanya salah satu ajarannya kan adalah bahwa penderitaan itu datang dari keterikatan aliyas ketidakmampuan untuk letting go *now auto playing: scene spiritual awakening: cahaya ilahi muncul dari ujung layar diiringi sound effect penanda enlightment dan blink blink surgawi berpendar di seluruh layar *self tampar *biar kembali ke dunia nyata. 
Nah karena at this point I feel more at peace for letting go ini, plus ada reminder juga pas pelatihan bahwa "kalau orangnya ga mau komitmen terapi, gosah maksa buat playing God and trying to rescue everybody. let go aja, beresin yang dalam kapasitasmu buat beresin; yang di luar itu gosah", jadinyaaa I feel waaaayyy less guilty about not being able to take care of everything dan saya merasa jadi semakin bisa memantapkan posisi sebagai anggota komplotan setan (read: apapun yang kalian lakukan, saya perSETAN) dan anak gwenchana (read: elo taroh dramak kehidupan kaya apapun on my table, guweh gwenchaaanaaaa... *now playing: back sound piano mi fa mi do re). 
IMO lumayan banyak hal2 yang akhirnya saya let go habis pelatihan ini (dan surprisingly saya tetap gwenchana):
1 Keinginan buat ke yurop bulan Oktober tahun ini (karena ternyata setelah dihayati lagi, pada titik ini ternyata saya lebih suka lihat saldo rekening yang memadai dibanding lihat bule2 tamvan bertinggi badan sangat memadai)
2 Pasien-pasien yang hobi nge-ghosting tapi sekalinya datang dramaknya beneran kek sepuluh season dirapel ditumplekin jadi satu (karena reminder yang saya bilang tadi kan: if you're not that much into doing it, then we're not doing it and I'm fine with that)
3 Kebiasaan untuk mendengarkan dengan sangat empatik dan sangat memvalidasi (karena kata trainer dan referensinya, kalo seumur2 terapi isinya validasi dan acceptance doang, biasanya progressnya lambat dan elu burnout duluan sebelum bisa making any changes trus terapinya malah gagal).
4 Keinginan buat kembali ke "ngambis mode" ala jaman nom2an mbiyen, which surprisingly doesn't make me feel 'degraded', karena ternyata.. ngambis mode yang sempat saya rencanakan kemaren itu adalah ngambis mode yang disusun berdasarkan construct kemaslahatan masyarakat instead of the fun-kind of ngambis mode that makes me love being myself when I'm doing it. Jadinya kaya I have the realization to reorient myself to redefine my favorite kind of ngambis mode dan.. it's fun! To my surprise, I could (relatively) easily come up with plans for ngambis mode yang μ§„μ§œ λ‚˜μ—κ²Œ 잘 μ–Όμ—¬ and I'm happy about it πŸ˜‡

Jadi begitulah. I let go of things, dan ternyataaa ada beberapa hal yang sebelumnya tetap saya kerjakan meskipun saya ga suka karena itu wajib, yang... ndilalahnya, karena perubahan aturan ini itu di tengah pemerintahan yang mbelgedes ini, jadi let go of me so I don't have to do those things anymore yay!
Satu, 'membership' di suatu tim yang ga jelas jobdesc, kewenangan, dan potential benefitnya (note: remun ga dihitung benefit karena yang pegang ATM penerima transferan remun saya kan bukan saya 😎)
Dua, membimbing skripsi wkwkwkwkwkwk. No, ofkors I don't hate membimbing skripsi in itself karena I like learning and the best way of learning is by teaching, right? Tapiiiii saya tu capeeeekkk berkali2 harus merasa prihatin atau esmoshit gegara berbagai hal. 
    Pertama, mahasiswa ikut kelompok riset dosen, dan riset skripsi mereka to a huge extent idenya uda dikonsep di kelompok riset itu, dan (saya ngerasanya) mereka kurang gigih memformulasikan argumen mereka biar the importance of their studies itu jelas... and I have to settle with "ini dari kerisnya seperti ini Dok." I mean, guweh tu yaaa, kalo nanya ini itu buat ngejar elu sampe ke ujung dunia buat dapet jawaban tentang "kenapa penelitian saya penting?" itu yaaa, tujuannya buat ngajakin eluuuuu biar membiasaken punya critical thinking dan responsible ama tulisan eluuuu. Secara yeee, rata2 pas elu nulis skripsi tu umur lu uda umur dewasa kan yak... jadi ya tanggung jawaaaaab sama tulisanmu deweee, jangan alasan kerisnya lah, dosennya lah... kek bayik tauuukk kalok kaya gitu tuuu
    Kedua, mahasiswa ikut kelompok riset dosen, terus sudah ngambil data sebelom proposalnya dia beres, terus habis gitu proses riset dan penyusunan karya ilmiah secara keseluruhannya tu nggak dihayati bener. Ngajuin permohonan telaah etik ya sekedar surat aja, ga dihayati bahwa telaah etik itu tujuannya untuk melindungi subjek, bahwa asal muasalnya telaah etik itu ada tu adalah karena ada azas kemanusiaan yang harus dihargai dan dipastikan tidak dilanggar dalam penelitian ini... Terus nulis rekap data di lampiran skripsi sembarangan: data yang ditampilkan ga cocok sama data yang dibilang mau dicari di bagian metode penelitiannya lah, dengan entengnya nama dan alamat asli atau poto muka responden dijembreng gitu ajah (ngerti azas CONFIDENTIALITY ga seh? 😑). Terus kadang datanya ga valid dan ga diinterpretasi tapi maksa tetep pake data itu karena kelompok risetnya uda selesai proses pengambilan datanya, tanpa ada precaution yang cukup tentang generalizability dan usability data itu, dengan alasan "saya ngejar koas yang batch x Dok." Kalau saya pribadi, ngerasanya kalo mempublikasikan suatu konklusi yang sebenarnya belum bisa jadi konklusi tanpa bilang "ini belum final" itu ga jauh beda sama nipu, so I'm not gonna do that. Teruuuus, yang namanya penelitian itu, kalo di tengah jalan ada satu dan lain hal yang bikin penelitiannya harus ganti metode atau ganti data atau semacamnya, ya emang bisa kaya gitu. Kalau itu terjadi, ya udah, di-acknowledge, dilakoni perubahannya, dijelaskan prosesnya di laporannya. Tapi ya gitu... kadang di-acknowledge tapi ga dilakoni perubahannya, in the name of "ngejar koas batch x" hingga endingnya  ya itu tadi: konklusi yang tidak konklusif. Tapi ya gemana yak... itu bukan penelitian guweh, yawda keputusannya bukan di guweh. Seterah elo aja lah πŸ™„
    Ketiga, again for the sake of "ngejar koas batch x" atau "ngejar yudisium tanggal x", publikasi ilmiah dari skripsi di-submit ke jurnal dengan mencantumken nama guweh tanpa guweh pernah baca draft naskah publikasinya sekalipun. Ini kan artinya nggak aware ya, bahwa naruh nama itu artinya pasang badan alias tanggung jawab atas apa yang ada di tulisan itu. Gotta say, saya merasa didholimi ya kalo ini kejadian, karena ujug2 saya harus tanggung jawab buat sesuatu yang saya nggak tahu tu like... how? How can I be held responsible for something that I don't even know existing? Padahal ini bisa berdampak ke linearitas publikasi saya, ke track record expertise saya yang bisa jadi difus kalo ada banyak artikel yang namanya nama saya tapi topik expertise-nya bukan topik saya. Gemana caranya saya bisa membangun reputesyen di bidang keahlian tertentu kalo topik publikasinya di segala bidang? Ini track record keilmuan yang mau dibangun, bukan supermarket. Even worse, kalo artikelnya atau abstrak artikelnya bahasa enggres trus terjemahane wuelek. Wow sungguh double kill: selain mengancurkan reputasi saya sebagai profesional di bidang kesehatan, hancur jugaaa reputasi saya sebagai PENERJEMAH TERSERTIFIKASI NASIONAL HPI. Like... makasih lho, sudah meng-ambyar-kan CV digital saya secara multidimensional. Sungguh sangat berdedikasi...

Jadi begitulah.
Dengan berbagai hal yang ter-let-go itu, sepertinya mental load dan attachment saya to people and things cukup banyak berkurang. As mentioned earlier, I feel free. My mind... somehow... has re-found ways for being creative and 'out of the box'; something I haven't felt like possible for a kinda long time. Emang sih kalau saya lagi 'out of the box' itu kadang bikin orang menderita, tapi yawda lah ya, ga tiap hari ini guweh bikin orang menderita... *argumen macam apa ini?

Anyway. Saya jadi bisa bikin rencana yang (buat saya) seru untuk menjalani 2025 yang 1st quarternya penuh berita korupshit dan oplosan ini. Saya jadi lebih pede buat berencana bahwa I'm not gonna be traveling a lot this year; I'll save the cash instead. 
I'll stay home and read a lot, learn a lot, and feel swag for being smarter.
I'll listen better to the music, appreciate it better, and indulge myself more in the beauty of sounds.
I'll pay better attention to details in life that I might have missed all these times; take better care of them, and be more thankful of their presence.
I'll get my homework done, especially the ones that have been delayed for sooo long.

I might write more, translate more, conduct better therapy sessions, create more, and play more.

I can't say that I'm 100% ready yet, but I'm excited coz fo' sho', the best is yet to come.
2025 λ…„ ν™”μ΄νŒ…!