Saya sudah cukup lega karena sudah bisa kembali sekolah.
Meski konon kabarnya masih harus bed rest sampai sekian
minggu which is like embuh secara sebagai anak kos yang tinggal sendirian di
kamar, apa ya kalo saya bed rest terus lantainya bisa nyapu sendiri, cucian
beres sendiri, barang-barang tertata sendiri? Meski anosmia. Meski belum
optimal juga karena pandangan masih sering kabur dan sakit kepala kadang nongol kalau
kelamaan baca slide presentasi di layar atau di laptop atau bahan hardcopy.
Meski masih sering izin untuk tidur siang atau sekedar duduk sekian menit untuk
memejamkan mata. Meski kalau jalan kaki sekarang lebih pelan biar nggak nabrak
karena pandangan kabur, dan belum bisa jalan kaki jauh dan masih malas
menyeberang jalan sendiri. Gyahaha. Meski masih belum kembali jadi pelanggan
go-r*de/ub*rmotor dan lebih memilih go-c*r/ub*rx. Meski malam kadang jadi
serasa tidur terlalu malam, dan pagi agak sulit bangun pagi. Meski mimpi masih
sering bertema kecemasan dan kadang membuat saya terbangun cepat tapi kemudian
tidur lagi sampai kesiangan. Meski pegal atau sedikit nyeri masih sesekali
terasa di sana-sini dan saya masih belum bisa sepenuhnya mengoperasikan (baca:
mengolahragakan) otot-otot saya seperti sebelumnya. Meski belum kembali latihan
menyanyi dengan kekuatan penuh.
Ada lebih banyak hari sekolah di mana saya pulang tepat
waktu dibanding pulang lebih dulu, meski jumlah hari terlambat masih lebih
banyak dibanding hari ketika saya datang on time :p Saya sudah bisa mengikuti
sebagian kegiatan ilmiah meski entah berapa persen yang bisa saya mengerti. Momen
tidur siang saya sudah mulai berkurang durasinya, dan sesekali saya masih bisa
berbaring sambil merem tapi sambil jawab pertanyaan tentang kasus atau bahan
ilmiah tertentu. Sudah sempat terbang ke Jawa jugaaaaa, dan ikut konferensi dengan
topik psikoterapi paporit akoh setelah ngidam sekian tahun (meski pakai
diomelin sana sini karena konon kabarnya harusnya rung oleh mabur numpak pesawat selain pesawat telepon atau pesawat televisi). Anamnesis
pasien sudah bisa; dan lama, dan relatif lebih bisa memperhatikan dan
mendengarkan dibanding yang saya perkirakan sebelumnya. Jalan kaki sudah bisa
agak cepat, agak jauh, dengan sakit kepala, pandangan ganda, serta mual yang
minimal selama atau pasca jalan. Transportasi masih mudah didapat dan Bu Susi
juga berkali-kali menekankan nggak usah ngirit-ngirit, yang penting selamat;
jangan naik motor, naik mobil aja dulu; yowes aku nurut wae :p Obat sudah bisa
dikurangi dosisnya, dan konsekuensi penurunan dosis ini pun relatif tidak ada. Spv
sepertinya jadi menahan diri untuk bertanya tentang tesis saya yang belum
kunjung selesai dan cenderung membahas kondisi fisik saya saja, itupun tidak
lama. Telinga yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena tidak peka dinamika
dan tidak bisa diskriminasi lima suara kelompok a capella favorit, sekarang
sudah lebih bisa peka dinamika dan sudah kembali bisa diskriminasi pasca
dibersihkan di THT. Mencuci sudah sempat terjadi, meski setrikanya masih
menunggu takdir Tuhan. Kecemasan akibat ketidakpastian mulai berkurang, begitu
juga dengan marah-marah. Saya merasa justru saya sekarang jadi belajar bersabar,
terutama terhadap diri saya sendiri karena ada banyak hal yang justru jadi
laaaaaammmbaaaattt baaaaangeeettt saat saya yang mengerjakan. Gyahahaha. Jadi
ya tidak apa-apa, biar pernah dan biar tahu rasanya berjalan lambat sambil
menikmati apa yang ada. Yang penting lega karena masih hidup dan masih
berfungsi :D
Saya juga sudah cukup lega karena ternyata beneran saya
sudah lumayan move on dari mas-mas kampret yang sempat membuat saya sulit move
on beberapa waktu lalu. Unfriend di FB itu ternyata metode move on yang
efektif. Gyahaha. Hla ra lega piye jal, secara si kampret ini punya beberapa
aspek penampakan yang mirip dengan salah satu personel bersuara bariton di kelompok vokal favorit.
Jadinya kalau saya nyetel video yang lead vocal-nya si bariton ini, saya malah
sakit hati. Padahal itu kelompok vokal favorit guweeeehhh, dan lagu-lagunya kaya
apapun, ya sebagai fans yang tidak durhaka harusnya saya tetap suka lah ya..
hla ini akhirnya malah sempat menghindar. Laki-laki macam apa coba si kampret
satu ini, membuat saya jadi menghindar dari sesuatu yang selama ini sangat saya
cintai dan jadi survival kit saya yang cukup signifikan dalam menghadapi
kehidupan dunia yang semakin keras ini ..*pret* Jadi setelah saya move on
dan mendengarkan lagu-lagu mereka memberi saya perasaan yang seperti biasa,
terlebih setelah kondisi telinga saya membaik, rasanya legaaaa. Rasanya merdekaaaa,
dan saya tidak lagi jadi fans durhaka. Horeeeee :D Intinya, lain kali kalau
saya terlibat lagi dengan orang yang gelagatnya akan membuat saya berubah jadi
fans durhaka, baiknya segera disudahi saja. Saya sudah tidak penasaran lagi
untuk tahu seperti apa rasanya mencoba bertahan di tengah ketidakpastian hubungan
karena rasanya busuk dan selama tidak dipastikan ya akan tetap busuk; paling
tidak buat saya. Ada banyak pekerjaan yang mungkin bisa saya lakukan, karya
yang mungkin bisa saya hasilkan, dan dalam melakukannya saya perlu didukung
oleh musik yang tepat dan bisa diandalkan untuk jangka panjang. Jadi kalau
urusan laki-laki juga sama: saya perlu yang tepat dan bisa diandalkan untuk jangka
panjang, dan yang lebih penting lagi, ‘urusan’ saya hanya sama dia. Nggak perlu
ada perempuan atau laki-laki lain, sehingga sebisa mungkin nggak perlu ada
kebohongan di sana-sini. Meski judulnya saya akan jadi psikiater dan konon
kabarnya seharusnya punya mental and emotional resources untuk mengurusi
kekecewaan dan sakit hati terkait kebohongan-kebohongan itu, yo mit mending aku
nggarap paper mbangane ngurusi wong lanang sing hobi ngapusi njuk aku ra
dibayar. Luwih cetha terms and conditions-nya njuk luwih berpotensi mencerahkan
masa depanku mbangane wong ra jelas kaya kampret kae. Hih. Ya bagus lah
itu kejadian di masa lalu dan sekarang sudah berakhir. Sekarang saya mau
sekolah, jadi residen baik-baik biar cepat lulus dan cepat bisa cari
penghasilan buat jalan-jalan ke Eropa termasuk Swedia. Wis pokoke mbalik fokus Swedia.
Ya tapi lulus dhisik ding, biar tambah banyak leganya.
Ya sudah. Gitu aja untuk bagian dua. Nggak ada lanjutannya
ya tentang topik “lega” ini. Sube suud ventilasi ne, sube puas jani :p
No comments:
Post a Comment